oleh

Nor Anisa, Putri Daerah Kaltim Mewakili Indonesia di UN75 Youth Plenary

Samarinda – Satu lagi anak asli daerah dari Kalimantan Timur menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam perhelatan United Nation 75 Youth Plenary, bersama 11 pemuda lainnya.

Nor Anisa, wanita kelahiran Samarinda ini telah mengikuti UN75 Youth Plenary yang dilaksanakan secara virtual, dimana dalam diskusi tersebut dipimpin dan digerakkan oleh para pemuda di TV Web PBB dan saluran media sosial PBB.

Bertemakan The Future We Want, The UN We Need: The Future of Multilateralism, Nor Anisa mengisi sesi digital and technologies impact. Yang dimana ia membuat policy recomendation dalam meningkatkan platform lapangan pekerjaan dari sektor informal seperti sharing economy dan fintech.

“Dalam forum ini saya mendorong adanya subsidi pemerintah lokal untuk memberikan fasilitas internet dan kebutuhan sekolah jarak jauh di Kawasan Afrika Selatan, dimana Afrika Selatan saat ini mengalami krisis pelayanan publik dan internet yang diperburuk dalam situasi COVID-19, berbeda dengan Indonesia yang sudah cukup baik jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut,  dimana saat ini kita sudah memiliki subisidi khususnya anak anak sekolah saat ini,” katanya, Sabtu (19/9/2020) siang.

Selanjutnya, pada ajang tersebut ia dipilih langsung dari Kemenpora RI dan perutusan tetap republik New York untuk kegiatan Ecosoc Youth forum 2019 di PBB New York, dan sejak saat itu dirinya menjadi mitra Kemenpora.

“Saya termemotivasi untuk mengikuti program ini karena partisipasi anak-anak daerah yang dari Kalimantan masih sangat minim untuk mengikuti platform pemuda global kalau dibandingkan dengan pemuda lainnya. Jadi saya mau orang tahu bahwa pemuda Kaltim bisa setara dengan pemuda Indonesia dan dunia lainnya,” ucapnya.

Selain itu, Anisa juga menjabat sebagai Koordinator Aksi Pemuda Indonesia oleh United Nations Conference on Trade and Development sejak tahun 2018, dan saat ini ia bersama Pemuda Asean dan delegasi lainnya membahas isu-isu pemulihan akibat pandemi COVID-19, seperti teknologi, ekonomi maupun pendidikan.

“Rasanya bersyukur sekali bisa menjadi satu dari 12 pemuda yang mewakili Indonesia  karena dari dulu saya selalu bangga mewakili Kaltim diantara teman Indonesia atau teman internasional, saya banyak belajar dan beruntung bisa bertemu menteri Indonesia, menteri di beberapa negara dan saya menjelaskan ” Kalimantan Timur memiliki keragaman budaya dan Kaltim memiliki kerajaan tertua hindu di Indonesia, yakni di Kutai Kartanegara,” ungkapnya.

Disisi lain, Kaltim sendiri telah memiliki sektor pembangunan seperti pertambangan, sawit, dan satwa endemik yaitu Pesut Mahakam.

“Saya sangat senang walaupun hanya bisa menyampaikan pesan singkat tapi setidaknya saya ada upaya merubah stigma orang diluar sana yg menganggap Kaltim hanyalah hutan dan sungai,” ujarnya.

Dirinya pun berharap pemuda Kaltim agar selalu optimis dan terus berambisi untuk masa depan.

“Harus punya skill dan wawasan global dan menerapkan motto berpikir secara global bertindak secara lokal, karena pemerintah kita apalagi didaerah tentu memiliki pemikiran terbatas dalam mengembangkan inovasi jadi kita perlu mengeksplor di luar sana,” harapnya.

Nisa yang juga berprofesi sebagai peneliti mengungkapkan sejumlah harapan untuk pemuda khususnya untuk tetap meningkatkan literasi digital saat ini dan kedepan hari karena situasi seperti sekarang maupun akan mendatang semua akan serba digital.

Namun digital tidak hanya tentang kemajuan saja tapi tantangan yakni ketika pemuda tidak bisa mempersiapkan keterampilan dengan baik maka akan kehilangan pekerjaan.

“Saat ini, pabrik, perbankan, pendidikan akan menggunakan teknologi. Jadi diusahakan kita harus kritis, karena dengan kita kritis kita bisa memiliki public speaking, analisa permasalahan yangg baik kita mampu bersaing dengan teknologi karena teknologi dan digital hanyalah sebuah sistem yang bisa mengerjakan pekerjaan secara berulang dan tidak mampu memiliki rasa empati,”jelasnya.

Terakhir putri dari Muhammad Salim dan Ida Mathelda ini menginovasi pemuda agar sebaik mungkin memanfaatkan teknologi, sehingga anak muda lah yang mengendalikan teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan manusia. (kmn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.