oleh

Pemkab Kukar Cegah Angka Stunting dengan PMT dan 1.000 HPK

Kukar, kaltimnow.id – Angka Stunting di Kutai Kartanegara (Kukar)  hampir menyentuh 20 persen, hal ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar mengambil langkah mengurangi tingginya angka tersebut dengan kebijakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan 1.000 HPK.

Pemkab Kukar dan Dinas Kesehatan Kukar akan berfokus dalam pemberian PMT berupa Zat Gizi Makro maupun Zat Gizi Mikro pada balita dan ibu hamil dalam rangka pencegahan Bayi lahir rendah (BBLR) dan balita Stunting.

Menurut Nurul selaku Kasi Peningkatan Gizi Keluarga dan Masyarakat (PGKM), pihaknya perlu melakukan intervensi gizi spesifik sejak dini.

“Untuk menekan angka tersebut, nantinya kita akan melakukan intrenvensi gizi spesifik dan pemenuhan gizi anak sejak dini bahkan sejak dalam kandungan dan juga 1.000 HPK,” katanya, Kamis (26/11/2020).

Hal itu perlu dilakukan sejak memasuki fase kehamilan, sekitar 270 hari hingga anak berusia dua tahun atau 730 hari. Wanita yang akrab dipanggil Nurul, menjelaskan adanya peningkatan asupan pada makanan, status gizi ibu, penangan penyakit menular, dan pemerhatian kesehatan lingkungan menjadi langkah untuk menekan angka stunting.

“Selain itu jangan lupa untuk konseling menyusui, supaya bayi dapat ASI eksklusif, yang harus dimulai sejak bayi berumur nol hingga enam bulan atau sampai berumur dua tahun” jelasnya.

Selanjutnya, setelah menjalani tahapan tersebut. Ia menerangkan adanya tahap Pemberian Makan Pada Bayi dan Balita (PMBA) sebagai makanan pendamping asi ketika bayi berusia enam bulan.

“Setelah 6 bulan, dilakukan lagi konseling pemberian makan pada PMBA. Artinya bayi tetap diberikan asi tetapi juga diberikan makanan pendamping asi, sesuai dengan tahapan usianya,” terangnya.

Nurul menambahkan, melalui posyandu intervensi gizi spesifiki dapat dipantau oleh pemerintah. Dengan melihat data setiap bayi atau balita yang diperiksa di posyandu secara rutin.

”Kita pantau melalui kegiatan posyandu, dari situ kita bisa mengetahuinya, karena di posyandu ada kegiatan pengukuran fisik seperti lila (lingkaran lengan atas), berat badan, tinggi badan, dan lainnya” pungkasnya. (yue/ant)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *