oleh

Suka Duka Kuliah Daring Mahasiswa Indonesia, yang Menempuh Pendidikan di Luar Negeri

Samarinda, Kaltimnow.id – Lockdown di berbagai negara membuat mahasiswa internasional dari Indonesia harus tetap semangat kuliah online di daerahnya masing-masing.

Dikutip dari siaran pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Nizam selaku direktur Jenderal Pendidikan Tinggi mengatakan, bersama dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait memberikan izin perkuliahan pada awal Januari 2021.

Hal itu berdasarkan pada SKB Nomor 04/KB/2020, Nomor 737 Tahun 2020, Nomor HK.01.08/Menkes/7093/2020, dan Nomor 402-3987 Tahun 2020 membahas tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Coronavirus Disase 2019 (Covid-19).

Atas dasar keputusan bersama, maka pembelajaran tatap muka diputuskan dapat dimulai sejak awal 2021 dan pembukaan sekolah diserahkan langsung ke Pemerintah Daerah (Pemda).

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam mengatakan kebijakan ini hanya mengizinkan penyelenggaraan kuliah tatap muka serta kegiatan akademik lainnya yang berbentuk pelaksanaan penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Semua perguruan tinggi harus tetap memprioritaskan kesehatan dan keselamatan warga kampus yang meliputi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat sekitar,” katanya dalam siaran pers Kemendikbud.

Namun nyatanya tepat pada awal tahun 2021 ini, pandemi Virus Corona di Indonesia belum juga memperlihatkan menurun secara signifikan. Bahkan kondisi dilapangan masih mengancam dengan angka kasus yang sangat memprihatinkan.

Beberapa perguruan tinggi pun terpaksa menambah perpanjangan waktu perkulihan online sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Hal ini bahkan berdampak pada sebagian mahasiswa yang merasa perkuliahan online justru semakin lama semakin tidak efektif, dan tak jarang juga ditemui mahasiswa yang harus mengambil cuti kuliah untuk fokus dalam bekerja.

Tidak hanya mahasiswa yang kuliah di Indonesia saja, tetapi hal ini pun juga dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.

Wartawan kaltimnow.id menyambangi Anugrah Dwi Anuari (26) salah satu mahasiswa S2 di Nanjing University of The Art, China. Pria asal Samarinda, Kalimantan Timur ini sudah sejak satu tahun lalu melaksanakan kuliah online di Indonesia.

“Kalau dampaknya saya pikir ada, apalagi di luarkan juga ada penambahan wabah baru dan itu juga membuat berbagai negara meningkatkan keamanan negaranya. Di Cina sendiri yang tergolong sudah aman, sekarang masih gak bisa menerima orang kita yang masuk kesana, karena Indonesia peningkatan kasusnya tinggi,” katanya, Kamis (7/1/2021).

Kemudian, melalui keputusan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, mengumumkan akan menutup akses masuk bagi Warga Negara Asing (WNA) ke Indonesia. Penutupan akses ini diberlakukan mulai Jumat (1/1/2021) hingga 14 hari ke depan.

Pengumuman tersebut disampaikan Retno dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Senin (28/12/2020). Dengan keputusan tersebut mengakibatkan pria yang akrab dipanggil Anugrah ini pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke Cina.

“Kemarin sempat di sana selama satu setengah tahun. Ada libur musim panas, saya balik dan tiba-tiba masuk pandemi. Saya akhirnya tidak kembali kesana, dan kurang lebih dua semester harusnya kami sudah bisa balik. Kemungkinan bakal diundur lagi,” jelasnya.

Ditanya apakah efektif dalam kegiatan belajar secara via daring. Anugrah pun menuturkan, justru sangat kurang efisien, hal ini disebabkan adanya perbedaan bahasa dan keadaan lingkungan yang kurang mendukung untuk mengikuti setiap mata kuliah yang diberikan.

“Kalau secara pribadi, saya yang kuliah di bidang seni yang sering di lapangan lebih progersif kalau kita langsung praktek di studio. Apalagi saya ada tugas yang setengah, selesai di sana dan perkuliahan online efektifitasnya sangat kurang. Meskipun dengan durasi yang lama, kalau tidak ada interaksi fisik secara langsung itu menurut saya susah,” tuturnya.

Ia pun mengungkapkan, seluruh mahasiswa yang kuliah di Cina pun tidak diperkenankan untuk pergi atau kembali ke negara asalnya sebelum ada kepastian lebih lanjut tentang pandemi ini.

“Kemarin ada kawan dari Kazakhstan, yang nekat kesana tetapi dari pihak sana (Cina) malah mengembalikannya ke negaranya. Di sana ketat dan dari pihak sekolahpun, memberikan peringatan agar tidak kembali sebelum pemberitahuan lebih lanjut. Jadi bukan Indonesia saja yang tidak boleh kesana, siapapun dan dari negara manapun yang pulang pada musim dingin 2020 tidak boleh balik, sambil menungu situasi di negaranya aman,” ungkapnya.

Anugrah juga menyampaikan, untuk mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Indonesja untuk lebih bersyukur. Pasalnya pemerintah telah memberikan kuota gratis, berbeda dengan halnya mahasiswa Indonesia yang kuliah di kuar negeri.

Dimana dalam penggunaan data seluler yang ada diberbagai negara dan juga aplikasi yang digunakan tidak sama dengan apa yang digunakan di Indonesia kebanyakan.

“Kami selama kuliah online mengunakan aplikasinya beda, kalau kami menggunakan VOOV untuk room meetingnya. Karena memang itu yang disarankan pemerintahan Cina untuk pembelajaran online disana,” jelasnya.

Walau pun banyak kendala yang dihadapai selama kuliah online di negara sendiri, Anugrah tetap menjalankan secara maksimal demi memenuhi kebutuhan pendidikannya yang diadakan setiap minggunya.

“Karena sudah jadi pilihan kita. Kita harus punya tekad untuk memulai dan harus diselesaikan. Kalau saya bilang, aktif banget perkuliahan online, ini karena kita setiap minggu itu ada tujuh sampai delapan kelas itu beberapa mata kuliah. Dan itu kamera on, ada PR dan tugasnya, kayak mengumpulkan screenshot tugas kita dan yang lain-lain itu harus dikejar terus,” pungkasnya. (yue/ant)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *