Aceh Tengah, Kaltimnow.id – Sebanyak 9.880 jiwa warga di Kabupaten Aceh Tengah masih hidup dalam kondisi terisolasi hingga pertengahan Januari 2026, meski sudah lebih dari 50 hari berlalu sejak bencana hidrometeorologi melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025.
Kerusakan infrastruktur yang cukup parah menyebabkan puluhan desa di wilayah pedalaman belum sepenuhnya pulih. Akses jalan yang terputus membatasi mobilitas warga serta menghambat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Aceh Tengah per 17 Januari 2026, warga terdampak tersebar di lima kecamatan, yakni Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge. Kondisi akses di wilayah tersebut bervariasi, mulai dari terbatas hingga sama sekali tidak dapat dilalui kendaraan.
Di Kecamatan Bintang, dua desa hingga kini belum bisa dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi serupa juga dialami dua desa di Kecamatan Silih Nara.
Sementara itu, Kecamatan Ketol menjadi wilayah dengan tingkat keterisolasian tertinggi. Tercatat tujuh desa masih terputus total, satu desa hanya dapat diakses kendaraan roda dua, dan satu desa lainnya baru bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat.
Di Kecamatan Rusip Antara, empat desa masih bergantung pada akses terbatas yang hanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Sedangkan di Kecamatan Linge, lima desa lainnya juga masih belum bisa diakses kendaraan roda empat.
Secara keseluruhan, terdapat 13 desa yang tidak dapat dilalui kendaraan roda dua dan 21 desa yang belum bisa dijangkau kendaraan roda empat. Kondisi ini berdampak langsung terhadap distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, serta pemulihan ekonomi warga pascabencana.
Kepala Diskominfo Aceh Tengah, Mustafa Kamal, mengatakan keterisolasian tersebut disebabkan oleh kerusakan infrastruktur yang cukup berat.
“Terisolirnya desa-desa ini akibat jembatan putus, badan jalan yang amblas, serta jalan tertimbun longsor di banyak titik,” ujar Mustafa Kamal, Minggu (18/1/2026).
Ia menambahkan, pemerintah daerah terus melakukan upaya penanganan dengan menurunkan alat berat ke sejumlah lokasi terdampak guna membersihkan material longsor dan membuka kembali akses jalan.
“Untuk beberapa ruas jalan yang mengalami amblas, saat ini sudah dilakukan rekayasa lalu lintas agar tetap bisa dilalui,” tambahnya.
Meski demikian, hingga lebih dari satu setengah bulan pascabencana, ribuan warga Aceh Tengah masih menghadapi keterbatasan akses yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Kondisi tersebut menegaskan perlunya percepatan pemulihan infrastruktur agar keterisolasian tidak semakin berlarut dan memperberat beban masyarakat terdampak. (Ant)










